MAKALAH Kajian Orientalis Terhadap Pribadi Nabi SAW


PENDAHULUAN

    Sejak perang dunia kedua, para orientalis dan misionari megubah usaha mereka, tidak lagi berusaha mengubah agama setiap muslim dan membujuk mereka untuk menganut agama Kristen, melainkan mengubah pandangan mereka sendiri terhadap agama Islam dengan mengemukakan penafsiran yang sama sekali berbEda serta melancarkan usaha yang terorganisasi secara rapi untuk melakukan pembaharuan Islam dari dalam. Bahkan boleh jadi dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar misionari di wilayah-wilayah orang Islam akan tidak begitu banyak memurtadkan orang muslim melainkan lebih banyak menyelewengkan islam itu sendiri.  
    Hampir semua karya tulis mutakhir yang ditulis oleh para orientalis mengikuti ancangan atau pendekatan ini. Oleh karena itu tidak menghirankan jika mendapatkan para pembaharu dikalangan kita sendiri yang menggunakan metode-metode serupa.
    Di makalah ini kami akan mencoba membahas hasil kajian para orientalis terhadap figur Nabi Muhammad saw, seperti Robert Morey mengambil kesimpulan bahwa Nabi menderita penyakit ayan, dan Dr. Philip K. Hitti melancarkan tuduhan bahwa nabi Muhammad SAW, adalah seorang penipu yang lihai, dan Goldziher tentang tuduhan terhadap kerasulan Muhammad..
PEMBAHASAN

Hasil kajian orientalis terhadap pribadi Nabi SAW
Bidang lain yang telah mendapat perhatian kajian keislaman modern adalah figur Nabi Muhammad saw. Karya-karya sarjana Barat tentang sejarah hidup dan kepribadian beliau banyak muncul sejak periode Perang Dunia II. Karya yang memperkaya  perhatian tentang Nabi Muhammad saw adalah karya terjemahan A. Guillaume pada tahun 1955 atas kitab sejarah  Ibn Hisyam, Sirat al-Nabi dan Marseden  Jones menyajikan karya suntingannya atas kitab al-Wahidi, Maghazi.  Selain itu ada beberapa dari kalangan orientalis seperti Robert Morey yang mengambil kesimpulan bahwa Nabi menderita penyakit ayan, dan Dr. Philip K. Hitti yang melancarkan tuduhan bahwa nabi Muhammad SAW, adalah seorang penipu yang lihai, serta Goldziher yang melontarkan tuduhan terhadap kerasulan Muhammad. Uraian tersebut akan kita bahas di bawah ini.

A.    Tuduhan Epilepsi
    Pada saat Nabi menerima wahyu, dalam beberapa cara penurunan diriwayatkan bahwa Nabi terlihat menggigil kedinginan, dan keringatnya menetes-netes. Keadaan Nabi yang demikian Dr. Robert  Morey mengambil kesimpulan bahwa Nabi menderita penyakit ayan. Gejala-gejala demikan itu tanpak padanya ketika ia tidak sadarkan diri, keringatnya mengucur disertai kekejangan-kekejangan dan busa yang keluar dari mulutnya. Apabila ia telah sadar kembali, ia lalu membacakan apa yang dikatakan Wahyu Tuhan kepadanya itu kepada orang-orang yang mempercayainya. Padahal yang dikatakan ayan itu tidak lain dari pada akibat serangan-serangan ayat tersebut.
    Menggambarkan apa yang terjadi pada Nabi Muhammad pada waktu itu datanglah wahyu dengan cara yang demikian itu, dari segi ilmiah adalah sama sekali salah. Serangan penyakit ayan tidak akan meninggalkan sesuatu bekas yang dapat diingat oleh si penderita. Bahkan sesudah ia sadar kembali pun sama sekali dia lupa apa yang telah terjadi dan apa yang dilakukannya selama itu. Sebabnya ialah, segala pekerjaan saraf dan pikirannya sudah menjadi lumpuh total inilah gejala-gejala ayan yang dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Jadi kejadian seperti itu sama sekali bukan yang dialami oleh Nabi Muhammad selama menerima wahyu. Selama menerima wahyu intelektual beliu sedang dalam puncak kesadaran. Dengan sangat teliti sekali beliu ingat semua yang diterimanya dan sesudah itu dibacakannya kembali kepada sahabatnya.
    Dengan kesadaran rohani yang sebesar itu, sama sekali beliau tidak dibarengi oleh ketidaksadaran jasmani. Bahkan sebaiknya yang terjadi, pada waktu itu Nabi sedang dalam keadaan puncak kesadaran yang biasa.
    Jadi ilmu pengetahuan dalam hal ini membantah bahwa Nabi Muhammad dihinggapi penyakit ayan. Mereka mengatakan begitu bukan karena mencari kebenaran, melainkan menurut dugaan mereka, dengan demikian mereka dapat merendahkan martabat Nabi Muhammad, sebab turunnya itu menurut dugaan mereka waktu ia sedang mendapat serangan ayan, kalau memang begitu, ini adalah suatu kesalahan besar kepada mereka, seperti kita telah kita sebutkan. Pendapat mereka inilahyang secara ilmiah telah samasekali tertolak.
    Kalau pedoman yang dipakai oleh kaum oreontalis demikan itu adalah tujuan yang murni, tentu mereka tidak akan membawa-bawa ilmu yang bertentangan dengan itu. Mereka melakukan semua itu karena ingin mengelabui orang-orang yang belum mengusai pengetahuan tentang gejala-gejala ayan, dan mereka yang cara berpikirnya masih sederhana yang sudah merasa puas dengan apa yang dikatakan oleh kaum oreontalis itu, tanpa mau bertanya-tanya kepada para ahinya seperti dari kalangan kedokteran atau mau membaca buku-buku tetang itu.                          
B.    Tuduhan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang penipu yang lihai
Dr. Philip K. Hitti, Guru besar Sastra semit di universitas Princeton selama beberapa dasawarsa diakui oleh dunia internasional sebagai ahli Islam yang paling berbobot di Barat. Mantan Derektor Program Kajian Timur dekat pada Universitas princeton yang tidak ada tandingannya itu, pada saat sekarang dikenal sebagai penanggung  jawab atas pengembangan Orientalisme di Amerika. Dr. Hetti yang lahir dalam lingkungn keluarga Kristen di Lebanon, memperoleh pendidikan tinggi dari Universitas Amerika di Beirut dan kemudian berhijrah ke Amerika Serikat pada tahun 1913 dimana dia berhasil memperoleh gelar doktor dua tahun berikutnya dari Universitas Colombia. Sebagai salah seorang yang terus-menerus menyumbangkan karangannya untuk berbagai ensiklopedia dan jurnal ilmiah, bukunya yang terkenal dan sejak lama diakui sebagai salah satu diantara buku-buku teks standar di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan Universitas di seluruh dunia adalah The History of the Arab, namun bukunya yang kami bicarakan disini adalah yang berjudul Islam and the West.
    Pertama-tama, Dr. Hitti melancarkan tuduhan bahwa nabi Muhammad SAW. adalah seorang penipu yang lihai. Uraian yang dikemukakannya tentang kehidupan beliau memberikan kesan kepada pembacanya bahwa dia benar-benar telah merencanakan tulisan itu secara cermat. Dalam komentarnya mengenai berbagai kejadian sesudah hijrah Nabi, dia menulis sebagai berikut:
    Di madinah orang-orang yang menunggu beliau secara berangsur-angsur surut kebelakang, karena munculnya tokoh politisi dan praktisi yang mengelola urusan mereka. Suatu perubahan dalam sifat wahyu-wahyu (kepada Nabi) tampak jelas. Wahyu-wahyu yang tegas dan keras yang menekankan keesaan Allah, sifat-sifat-Nya dan kewajiban manusia terhadap-Nya, dan yang disampaikan-Nya dalam gaya sastrawi dan penuh berirama, dan sekarang berubah menjadi wahyu-wahyu berkepanjangan yang kurang menarik berisi pembicaraan tentang persoalan-persoalan seperti ibadah dan shalat, perkawinan dan perceraian, budak dan tawanan perang.        
    Bahasa sinis yang digunakan disini perlu sekali catatan khusus. Dengan pretensinya terhadap penguasaan bidang studi itu, Dr. Hitti ternyata telah gagal mengungkapkan makna yang sebenarnya dari peristiwa hijrah itu. Di Mekah Nabi Muhammad tidak lebih daripada seorang penyampai suatu ajaran sedangkan di Madinah beliau mengorganisasikan orang-orang mukmin menjadi suatu masyarakat yang bersatu dengan kuatnya, sehingga dengan perkataan lain beliau menerjemahkan ajaran yang beliau bawa itu kedalam kehidupan nyata. Apa yang terjadi di Madinah setelah hijrah itu jelas diyakini baik oleh orang-orang bukan muslim maupun orang-orang muslim bahwa Nabi Muhammad SAW, menduduki peringkat tertinggi sebagai penegak hukum terbesar yang terkenal dalam sejarah. 
    Dalam tulisannya yang lain, dia juga menyebutkan bahwa para ahli sejarah Arab, yang kebanyakan adalah ulama, memberikan penjelasan sederhana yaitu perluasan wilayah Arab tidak begitu penting secara Internasional menimbulkan kehancuran di Timur  dan memberikan kekuatan yang paling besar di Barat. Hal ini memang sudah ditakdirkan Tuhan, sama sebagaimana penjelasan gereja tentang penyebaran agama Kristen dan penjelasan orang Yahudi tentang penaklukan wilayah Kanaan. Kita mendapatkan penjelasan bahwa motivasi perluasan wilayah itu bersifat keagamaan untuk menyiarkan agama Islam. Tetapi kenyataannya, motivasi yang utama bersifat ekonomik, kelebihan penduduk wilayah jazirah berpadang pasir itu harus dipindahkan kewilayah-wilayah lain yang berdekatan sehingga mereka bebas bergerak. Keinginan untuk mendapatkan wilayah jajahan sama sekali tidak dapat diingkari oleh para sejarah di masa-masa pertama penaklukan itu. Jadi islam yang pertama kali menaklukkan bukanlah Islam sebagai agama melainkan sebagai negara-bukan Mohammedanism melainkan Arabianism. Bangsa Arab bertebaran secara tiba-tiba di dunia sebagai teokrasi nasional, yang berusaha mencari kehidupan duniawi yang lebih sempurna. Dua atau tiga abad lamanya harus dilalui sebelum Syria, Irak dan Persia (iran) meneunjukkan ciri negara Islam. Ketika bangsa masing-masing dipersatukan dalam ikatan Islam, mereka pada umumnya terdorong oleh kepentingan pribadi baik ekonomi maupun politik.
    Dengan demikian Dr. Hitti jelas menolak adanya validas moral dan spritual Islam sebagai daya tarik utama bagi orang luar untuk menyatu di dalamnya. Jika penjelasan mengenai perluasan Islam yang berjalan cepat itu benar-benar bersifat ekonomik, lantas bagaimana harus dijelaskan mengenai kenyataan yang menunjukkan bahwa para Mujahiddin (pejuang) di masa Nabi muhammad SAW dan dimasa Khulafa’ur Rasyidin yang ternyata tidak menginginkan kenikmatan dunia itu, bahkan berperang dan gugur untuk memperoleh pahala di akhirat. Jika mereka betul-betul berperang di dorong oleh alasan-alasan pribadi, tentunya mereka tidak pernah berhasil menjaga kedisiplinan semangat juang, keteguhan hati dan semangat berkorban sehingga mampu mengalahkan lawan-lawan mereka yang jauh lebih banyak dan lebih baik persenjataannya. Jika islam benar-benar sama dengan Nasionalisme Arab, lantas apa yang mendorong Bilal dari Abessinia (Ethiopia), suhail dari Romawi atau Salman dari persia (Iran) untuk menjadi sahabat Nabi yang paling setia ? jika orang-orang bukan muslim memeluk Islam karena tujuan-tujuan duniawi, lantas apa yang menghalangi mereka untuk murtad  (keluar dari agama Islam pada saat suasana kacau dan selama berabad-abad mereka berada di bawah dominasi asing) dan bagaimana harus di jelaskan tentang segala seratus juta ummat Muslim yang ada sekarang.                          
C.    Tuduhan terhadap kerasulan Muhammad     
Dalam pandangan kaum orientalis-kolonialistik, Muhammad sebagai Nabi merupakan sesuatu yang sulit diterima dalam pemahaman mereka. Karena mereka terkena frame pemikiran Kristiani yang menganggap Isa atau Yesus Kristus sebagai Tuhan. Posisi Tuhan lebih tinggi daripada posisi sebagai Nabi atau Rasul. Maurice Bucaille (1978) menyebutkan bahwa keberatan para orientalis itu bersumber pada doktrin awal Kristen meyakini bahwa tidak ada agama dan Nabi setelah Kristen dan Yesus. Bahkan, hingga abad ini masih ada sarjana Barat yang menuduh Islam sebagai agama yang potensial untuk menciptakan para teroris.
Di dalam bukunya, Goldziher juga banyak menulis tentang tuduhannya tentang Nabi, diantaranya ia mengatakan sebagai berikut:
a.    Rasul adalah seorang pembimbing, bukan sebagai contoh dan teladan yang baik.
b.    Pada dirinya terdapat banyak kelemahan dan cacat sebagai mana layaknya manusia, dengan alasan ia tidak mendakwakan dirinya sebagai orang suci.
Ia mengemukakan dua ayat alqur’an yang terdapat dalam surah al-Ahzab ayat 45-46. Yang artinya:
 •         •        
Artinya: (45). Hai Nabi, Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk Jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,(46). dan untuk Jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk Jadi cahaya yang menerangi.
Kedua ayat ini ditafsirkan oleh Goldziher bahwa Rasulullah saw. Hanyalah seorang pembimbing, bukan sebagai seorang contoh dan teladan yang luhur. Dia (Rasul) dianggap sebagai panutan (teladan) yang baik, hanya karena dia punya kelebihan banyak berharap dan berzikir kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam surah al-ahzab ayat 21, katanya “ sesungguhnya Muhammad menyandang kelemahan sebagaimana manusia lainnya, dan dia menghendaki agar segenap kaum Mu’minin memandang-Nya sebagai seorang manusia yang mempunyai banyak cacat sebagaimana orang lain. Karena itu maka perbuatannya lebih agung daripada diri pribadinya, dan dia tidak pernah merasa bahwa dia orang suci, di samping itu dia juga tidak ingin dianggap sebagai orang suci.”
Dengan kekonyolannya ini, Goldziher bermaksud mengemukakan,” sesungguhnya muhammad hanyalah seorang ahli bicara dan juru nasehat belaka, bukan sebagai perintis dan contoh teladan yang tinggi bagi orang lain.”
Inilah rupanya yang dikehendaki Goldziher, dan hal ini menggambarkan kebebalan pahamnya terhadap ayat-ayat al-qur’an yang diantara-Nya di ungkapkan:      

                 
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(Q.S. 33 al-Ahzab 21)
Ayat ini dipahami oleh orientalis yang pintar utak-atik ini bahw Rasul saw. Itulah yang menharapkan rahmat Allah dan hari kemudian, tidak lebih dari itu, dan dia tidak mempunyai amalan atau buah pekerjaan yang dengan itu dia layak menyandang predikat  sebagai Nabi panutan.
    Makna ayat ini sudah begitu terang, bahwa:  pertama, Rasululah saw, adalah teladan yang baik dalam segala amal perbuatan. Kedua, orang-orang mukmin apabila hendak mengikuti dan meneladani Rasulullah saw, harus meminta tolong kepada Allah. Mereka dianjurkan untuk selalu mengharapkan rahmat-Nya, selalu ingat akan hari kemudian, yaitu hari perhitungan dan hari datangnya siksaan yang benar (bagi orang yang ingkar), dan hendaknya mereka senantiasa berzikir (ingat) kepada Allah. Dengan demikian maka mereka dapat menjadikan Rasulullah saw, sebagai suri tauladan yang baik dan luhur, baik dalam bidang akhlak maupun dalam segala perjalanan hidup.             
Namun demikian, kaum orientalis Barat modern sudah berpikir berbeda dengan pemikiran orientalis kolonialistik. Karen Armstrong, mantan biarawati dan salah seorang pemikir dunia paling masyhur tentang masalah-masalah agama, mengakui Muhammad sebagai seorang Nabi sekaligus sebagai Rasul. Ia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw menerima wahyu pertama kalinya di Mekkah pada tahun 610 M dan dua tahun kemudian mulai mengajarkannya. Sejatinya, pemikiran kaum orientalis semakin hari semakin berkembang dan memiliki perubahan. Dari menolak hakikat kenabian sampai menerima kenabiannya, bahkan tidak sedikit dari kalangan kaum orientalis yang akhirnya menganut Islam. Sperti dua orang sarjana Barat yakni Martin van Bruinessen dan Johan Hendrik Moulemen. Keduan sarjana ini pernah tinggal di Indonesia, di samping melakukan penelitian, mereka juga ikut terlibat aktif mengajar di Prrogram pancasarjana UIN  (dahulu IAIN) Jakarta dan Yogyakarta. 

PENUTUP  

Begitu banyak karya orientalis yang mengkaji tentang pribadi Nabi Muhammad SAW. seperti Robert Morey  bahwa Nabi menderita penyakit ayan”, Dr. Philip K. Hitti melancarkan tuduhan bahwa nabi Muhammad SAW. Adalah seorang penipu yang lihai, dan Goldziher  tuduhan terhadap kerasulan Muhammad. Tuduhan semacam itu jelas  merupakan tuduhan yang berbahaya, beracun, terutama bagi generasi muda kita yang tujuannya untuk merusak agama islam.   

DAFTAR PUSTAKA

Hamdono, Hj. Irena. Islam dihujat Menjawab Buku The Islamic Invasion karya Robert                      Morey, Bima Rodeta, 2003. 
Jamilah, Maryam. Islam dan Orientalisme, PT RajaGrafido Persada, Jakarta 1994. 
Prof. Ahmad Muhammad Jamil, Membuka Tabir Upaya Orientalis Dalam Memalsukan Islam, cv Diponoegoro, Bandung, 1991.

BACA JUGA :

Mappanretasi Yang dilaksanakan Oleh Masyarakat Tabunio

MACAM ISTILAH CEK DALAM BANK

Pengertian Manajemen Dalam Islam  

Pendidikan,

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MAKALAH Kajian Orientalis Terhadap Pribadi Nabi SAW"

Post a Comment

Saran dan masukan Anda adalah kepuasan kami